Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 24 Maret 2011

Prestasi Belajar Siswa

Pengertian Prestasi Belajar
            Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah.
Poerwadarmita (dalam Suwar, 2009:16) mengartikan bahwa ”Prestasi belajar suatu hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu.” Dengan demikian prestasi belajar adalah sesuatu baik pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dihasilkan atau diciptakan oleh seseorang melalui proses belajar. Menurut Winkel (dalam Mayuddin,2010:11) mengatakan bahwa ”Prestasi belajar adalah sering juga disebut indeks prestasi.”
            Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Peningkatan Prestasi Belajar
            Prestasi belajar dikatakan meningkat bila indikator prestasi belajar meningkat. Indikator Prestasi belajar itu meliputi aspek koqnitif, afektif, dan psikomotorik. Peningkatan prestasi belajar aspek Koqnitif dilihat dari perkembangan hasil evaluasi tiap-tiap akhir pembelajaran dan perkembangan hasil tes akhir siklus PTK. Peningkatan prestasi belajar aspek afektif dapat diamati dari peningkatan kehadiran siswa, kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan, kemampuan mengajukan gagasan dan aktivitas  belajar. Peningkatan prestasi belajar aspek psikomotorik dilihat dari peningkatan aktivitas siswa dalam menyiapkan alat praktikum, merangkai alat melakukan pengamatan, menggunakan alat ukur, membaca alat ukur, dan menjaga keberfungsian alat-alat praktikum.
            Prestasi merupakan suatu hasil dari usaha yang telah dilakukan oleh seseorang. Seseorang dikatakan belajar jika mengalami perubahan tingkah laku. Bloom, dkk (dalam Fibriyanti, 2006:5) mengklasifikasikan:
            Tujuan pembelajaran mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan            psikomotorik. Ranah kognitif bersangkutan dengan daya pikir, pengetahuan,        atau penalaran, ranah afektif bersangkutan dengan perasaan/kesadaran, dan         ranah psikomotorik bersangkutan dengan keterampilan fisik, keterampilan motorik, atau keterampilan tangan.

            Peningkatan prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini ditekankan pada kenaikan nilai pada ranah kognitif tingkat pengetahuan (C1), pemahaman (C2) dan penerapan (C3). Indikator prestasi belajar IPA siswa dapat dilihat dari hasil tes secara tertulis.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Kegiatan belajar dipengaruhi  oleh banyak faktor yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain dan dapat mempengaruhi prestasi seseorang dalam  bidang studi IPA. Secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal, yaitu sebagai berikut.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang bersumber dari diri pribadi manusia itu sendiri yang membawa pengaruh terhadap hasil belajar. Faktor internal ini terbagi dua  yaitu psikologis dan fisiologis.
Adapun faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari:
  1. Bakat Dan Intelegensi
Merupakan faktor yang dapat menetukan tinggi rendahnya prestasi belajar. Bakat adalah kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Poerwanto (dalam Mayuddin, 2010:12) mengatakan bahwa ”Bakat dalam hal ini lebih dengan kata aptitude yang berarti kecakapan pembawaan yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu.” Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan pada diri seseorang. Purwanto (dalam Mayuddin, 2010:13) menyebutkan bahwa ”Kemampuan  yang dibawa sejak lahir  yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.”
Jika siswa barbakat dalam bidang suatu bidang studi dan memiliki intelegensi tinggi, dapat diharapkan siswa tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Karena siswa itu lebih mudah memahami persoalan-persoalan yang ada dalam bidang studi tersebut.
  1. Minat
Pada umumnya minat yang tinggi akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi pula, artinya bila siswa belajar dengan penuh dengan minat akan membantu  pemusatan pikiran dan kegembiraan dalam belajar. Hal ini sesuai dengan yang dikemukan oleh Slameto (dalam Mayuddin, 2010:13) ”Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggap penting, dan bila siswa melihat banyak hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar dia akan berminat untuk mempelajarinya.”
Begitu juga apabila siswa kurang berminat, maka kegiatan belajar yang dilakukan yang berhubungan dengan pelajaran tersebut dengan sendirinya akan berkurang pula sehingga siswa akan mencapai prestasi yang rendah pula. Minat erat kaitannya dengan kebutuhan, dalam hal ini minat sangat dipengaruhi oleh kebutuhan. Apabila seseorang membutuhkan sesesuatu, maka dengan sendirinya ia akan menaruh minat untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Aktivitas-aktivitas yang dapat memenuhi sendiri tanpa perlu dorongan orang lain. Dalam masalah ini Nurkancana (dalam Mayuddin, 2010:14) mengemukakan bahwa ”Minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan merupakan faktor pendorong  dari luar, apabila pekerjaan yang dilakukan  cukup menarik  minatnya.”
Apabila ada minat maka sesuatu aktivitas akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya paksaan bagi dirinya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kartini (dalam Mayuddin, 2010:14) menjelaskan bahwa ”Bila belajar tidak sesuai dengan minat anak, maka anak tidak belajar dengan sebaik-baiknya.” Minat dari uraian di atas sangatlah berpengaruh terhadap kemauan siswa dalam belajar, dan apabila minatnya besar pada belajar maka hasil belajarnyapun akan meningkat.
c.       Motivasi
Faktor motivasi juga mempengaruhi seseorang dalam melakukan sesuatu kegiatan. Dalam hal ini motivasi oleh Fransen dan Maslow (dalam Mayuddin,2010:14) mengemukakan sebagai berikut:
1)      Adanya sifat ingin tahu
2)      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang lain
3)      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan dengan usaha yang baru
4)      Adanya untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
5)      Adanya ganjaran baru untuk hukuman
6)      Adanya kebutuhan fisik
7)      Adanya kebututuhan untuk mendapatkan kehormatan dari masyarakat
8)      Adanya keinginan yang harus tercapai

Dengan adanya motifasi pada diri siswa, tingkat kemeuan belajarnya semakin baik. Apabila motifasi ini tidak cukup dalam mendukung belajarnya maka prestasi belajarnya pun semakin menurun.
  1. Emosional
Emosional seseorang disebabkan oleh keadaan seseorang yang emosi yang tidak stabil misalnya rasa cemas, rendah diri, rasa jiwanya tertekan, dan lain-lain. Emosional adalah bagian dari perasaan belum tentu emosi. menurut Thanthowi (dalam Mayuddin, 2010:15) mengemukakan:
”Berhasilnya pendidikan tidak hanya semata tergantung pada tingkat kecerdasan anak. Faktor emosi teryata ikut mempengaruhi, seperti rasa takut, benci atau bosan  terhadap bahan atau  mata pelajaran. Sifat mudah putus asa didalam melakukan tugas, kecemasan yang terus menerus dan sebagainya akan sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.”

Faktor emosi sangat basar pengaruh dalam prestasi belajar. Anak yang selalu bersikap optimis akan selalu dibayangi rasa keberhasilan, begiti jaga sebaliknya dengan anak yang merasa pesimis selalu dibayangi kegagalan. Apabila emosi tersebut tidak dapat dikendalikan secara dini, maka siswa nantinya akan merasa takut dan merasa benci dengan apa yang ia kerjakan.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah hal-hal atau situasi dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi belajar. Menurut Slameto (dalam Mayuddin, 2010:15) ”Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang ada tiga kelompok  yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.”
a.       Faktor Keluarga
Faktor keluarga mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang, karena orang tua mempunyai peran yang sangat besar seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (dalam Mayuddin, 2010:15) bahwa ”Orang tua yang dapat mendidik anak-anaknya dengan cara memberi pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya. Sebaiknya orang tua yang tidak menginginkan pendidikan anak-anaknya, acuh dan tak acuh, bahkan tidak memperlihatkan sama sekali, tentu tidak akan berhasil dengan baik.”
Peran keluarga dalam pendidikan sangat dominan seperti halnya pangaruh orang tua terhadap anak-anaknya, cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga.
b.      Faktor Sekolah Atau  Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan merupakan pusat tempat pengembangan ilmu, lembaga pendidikan juga mempengaruhi prestasi belajar anak. Adapun hal yang dapat mempengaruhi proses belajar dari faktor ini adalah.
1.      Guru
Guru yang efektif guru yang berhasil mencapai sasaran yang dituntut  dirinya yang berdasarkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki, dalam proses belajar mengajar guru yang efektif sangat mendukung prestasi anak didik, sikap dan keterampilan yang dimiliki oleh guru sangat mempengaruhi dalam pendidikan. Guru selain sebagai pengajar juga guru adalah sebagai pendidik, guru harus dapat memotivasi  siswa,  membangkitkan minat siswa dalam meningkatkan prestasi  belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Soejono (dalam Mayuddin, 2010:16) yaitu ”Motif adalah kekuatan atau daya pendorong yang menyebabkan seseorang yang bergerak  ke arah tertentu. ”
Minat seseorang mendorong ia berbuat sesuatu, minat siswa terhadap sesuatu pelajaran mendorong siswa tersebut. Jadi minat berperan atau berfungsi sebagai pendorong  yang menyebabkan siswa berbuat dan belajar lebih giat, sehingga minat dapat juga dipandang motif. Apabila siswa tidak termotivasi dengan baik maka, siswa tersebut cenderung bermalas-malasan dalam belajar. Dengan meningkatnya motifasi, maka prestasi belajarnya akan meningkat pula sesuai motif yang diberikan guru terhadap siswa tersebut.
2.      Metode Mengajar
Mengajar sains merupakan satu kegiatan pengajar agar peserta didiknya belajar untuk mendapatkan pengetahuan sains yang meliputi kemampuan, keterampilan dan sikap yang dipilih harus relevan dengan tujuan belajar yang disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Ini dimaksud agar menjadi interaksi antara guru dan siswa. Interaksi ini akan terjadi bila menggunakan cara yang cocok yang disebut dengan metode mengajar sains.
3.      Fasilitas Belajar
            Fasilitas sekolah yang memadai ikut mempengaruhi proses belajar mengajar. Perlengkapan ini tidak boleh diabaikan karena dalam proses belajar mengajar membutuhkan peralaratan atau fasilitas pendidikan yang mencukupi yang dapat menunjang proses belajar mengajar. Mengenai hal ini Kartono (dalam Mayuddin, 2010:17) berpendapat bahwa ”Lengkap dan tidaknya peralatan belajar, baik yang dimiliki siswa itu sendiri maupun yang dimiliki sekolah dapat menimbulkan akibat tertentu terhadap prestasi siswa. Kekurangan peralatan belajar dapat membawa akibat yang negatif.” Kekurangan sarana belajar bagi siswa akan membuat siswa tidak kreatif dalam menggunakan alat peraga. Alat peraga sebagai penunjang dalam prestasi  belajar.
4.      Disiplin Sekolah
Disiplin sekolah yang baik akan membawa kebiasaan dan melatih anak didik untuk berdisiplin. Disiplin yang dilaksanakan dengan baik yang diperoleh hasil yang sesuai dengan  yang diharapkan. Oleh karena itu kedisiplinan lembaga pendidikan sangat menentukan karena sikap siswa dapat berpengaruh dengan kedisiplinan sekolah dan membawa dampak kepada prestasi belajar.
Salameto (dalam Mayuddin, 2010:18) menjelaskan bahwa ”Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan  disiplin membuat siswa menjadi disiplin pula, selain itu juga memberi pengaruh yang positif terhadap belajarnya, banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang diperhatikan, sehingga mempengaruhi sikap siswa dalam belajar.”
            Disiplin merupakan kunci keberhasilan. Dengan adanya disiplin siswa nantinya dapat melakukan sesuai yang diharapkan. Kejadian-kejadian yang tidak diinginkan banyak sedikitnya dipengaruhi oleh ketidak disiplinan seorang guru dalam memberikan pembelajaran. Disiplin sangat berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.
c.       Faktor Masyarakat
Masyarakat sangat mempengaruhi prestasi belajar, karena selain di sekolah siswa juga bergaul dalam masyarakat yang sehari-harinya terbawa bagaimana keadaan masyarakat di sekitarnya. Diantara sekalian banyak faktor dan lingkungan masyarakat yang lebih dominan mempengaruhi prestasi belajar anak adalah bagaimana kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, pola kehidupan masyarakat dan teman bargaul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar