Cari Blog Ini

Kamis, 31 Maret 2011

Gaya Magnet


Gaya Magnet
Gaya magnet berasal dari magnet. apakah sebenarnya magnet itu? istilah magnet berasal dari  bahasa  yunani, yaitu maknes. Maknes berarti batu dari magnesia itu, suatu daerah kecil di asia. dahulu, di tempat itulah orang pertama kali menemukan batu yang mampu menarik besi. batu itu kemudian diberi nama magnet. kini, batu itu tergolong magnet alam. Setelah manusia mengusai teknolog, dibuat magnet buatan. berbagai benda mampu ditarik oleh magnet tersebut. namun demikian, hanya benda-benda tertentu yang mampu ditarik oleh magnet.
Benda magnetis dan benda nonmagnetis
Benda magnetis atau benda magnetik artinya benda yang memiliki sifat seperti magnet. Benda magnetis dapat menarik benda lain dari logam dan dapat dijadikan magnet. Benda nonmagnet, artinya benda yang tidak memiliki sifat seperti magnet. Sehingga tidak dapat menarik benda lain.
Sifat-sifat magnet
A.   Magnet dapat menarik benda-benda tertentu.
Gaya tarik pada magnet mampu menarik benda-benda tertentu. Tidak semua benda dapat ditarik oleh magnet. Benda yang dapat ditarik oleh magnet adalah benda yang terbuat dari logam tertentu, yaitu besi, nikel, kobalt. Jika suatu benda mengandung salah satu dari bahan logam tersebut maka benda itu dapat ditarik oleh magnet. Benda itu dinamakan benda magnetis.
Benda lainnya tidak dapat ditarik oleh magnet karena tidak mengandung salah satu dari bahan logam besi, nikel, atau kobalt tersebut. Benda ini dinamakan benda nonmagnetis.
B.  Kekuatan gaya magnet
Gaya magnet dapat menembus penghalang, yaitu benda nonmagnetis. gaya tarik magnet masih berpengaruh terhadap benda magnetis dibalik penghalang tersebut. Namun demikian, kekuatan gaya tarik magnet dipengaruhi oleh ketebalan penghalang antara magnet dan benda magnetis.
Makin dekat jarak benda ke magnet, maka makin kuat gaya tarik magnet tersebut. Gaya tarik magnet ini menyebabkan magnet harus disimpan dengan hati-hati. hindarkan magnet dari peralatan elektronika yang rumit, seperti jam, telpon genggam, radio, televisi, komputer, dan lai-lain. Gaya tarik magnet bisa merusak fungsi benda-benda tersebut.
Kekuatan gaya tarik magnet tidaklah merata diseluruh sisi atau bagiannya. Gaya magnet terkuat berada di kedua kutubnya. Pada magnet batang, gaya magnet terkuat berada di kedua ujungnya, yaitu kutub-kutubnya. Jika beberapa benda magnetis didekatkan magnet, maka benda-benda tersebut cenderung untuk segera ditarik ke kutub-kutub tersebut.
C.  Magnet mempunyai medan magnet.
Magnet mempunyai gaya tarik, yaitu dapat mempengaruhi benda dari  besi yang ada disekitarnya. Daerah tertentu disekitar magnet yang dipengaruhi oleh gaya tarik magnet  disebut medan magnet. Medan inilah yang menyebabkan terbentuknya pola tertentu. Pola tersebut disebut garis-garis gaya magnet. Garis-garis tersebut saling bertemu di ujung kedua kutub magnet. Oleh karena itu, kutub magnet memiliki gaya tarik yang kuat dibandingkan sisi magnet lain.
Jika dua kutub magnet yang sejenis didekatkan akan terjadi tolak menolak. Jika dua kutub berlainan didekatkan akan terjadi tarik menarik. Besarnya gaya tarik menarik atau tolak menolak ditentukan oleh kuat medan magnet dan jaraknya. Magnet terbuat dari logam dan magnet dapat menarik benda-benda yang terbuat dari logam, sehingga benda yang terbuat dari kayu, kertas dan plastik tidak dapat ditarik magnet (Sumiharto, 2007:83).
D.  Magnet memiliki dua kutub.
Magnet memiliki dua kutub. jika magnet bisa bergerak bebas, maka ada satu kutub yang itu dinamakan kutub utara magnet. Biasanya diberi warna merah atau huruf N (North). kutub satunya lagi yang menunjukkan ke arah selatan, disebut kutub selatan magnet, biasanya diberi, warna biru atau huruf S ( South). Sifat inilah yang menjadi prinsip dasar kompas.
E.   Kutub senama tolak-menolak. kutub tak senama tarik-menarik.
Kutub-kutub magnet memiliki sifat istimewa. Jika kamu mendekatkan dua kutub magnet yang  senama, maka keduanya akan tolak-menolak. kutub utara satu magnet akan menolak kutub utra magnet yang lain. Demikian juga dengan kutub selatan, jika kami mendekatkan dua kutub yang tidak senama, maka keduanya akan tarik-menarik. Kutub utara sebuah magnet akan menarik kutub selatan yang lain. Demikian juga, kutub selatan sebuah magnet akan menarik kutub utara magnet lain.

F.   Kegunaan magnet
Magnet mempunyai banyak kegunaan. Magnet digunakan pada berbagai macam alat, mulai dari alat yang sederhana sampai yang rumit. kamu dapat menjumpai alat-alat yang menggunakan magnet dalam kehidupanmu sehari-hari. Misalnya, pengunci kotak pensil atau tas, obeng, dan gunting. demikian pula, kompas, dinamo, lemari es, dan alarm pengaman (mobil atau rumah) juga menggunakan magnet.
Magnet juga digunakan pada alat-alat berat untuk mengangkut benda-benda dari besi. magnet pada alat berat itu dibuat dengn cara mengalirkan arus listrik. Arus listrik berasal dari dinamo alat berat tersebut. Pada saat mengangkat benda-benda besi diturunkan (dilepaskan), aliran arus listrik diputuskan.
Tahukah kamu, mengapa gunting jahit mengandung magnet? Gunting jahit dapat menarik jarum-jarum yang berceceran. Dengan demikian, jika ada jarum yang jatuh, maka jarum itu mudah ditemukan dan ditarik oleh gunting jahit.

G.  Membuat magnet
Selain magnet alam, ada juga magnet buatan. Magnet buatan dalah magnet yang dibuat orang dari besi atau baja. magnet buatan digunakan untuk berbagai kebutuhan. Magnet buatan ini dijual di toko-toko tertentu. Bentuk magnet buatan bermacam-macam. Ada yang berbentuk batang, jarum, tabung (silinder), huruf U, dan ada yang berbentuk ladam (tapak kuda).
Logam yang digunakan untuk membuat magnet adalah besi dan baja. Besi dan baja dapat dibuat menjadi magnet karena besi dan baja bersifat feromagnetik (mempunyai sifat magnet yang kuat). Aluminium dan tembaga sulit dibuat manjadi magnet karena mempunyai sifat magnet yang tidak kuat.
Ada beberapa perbedaan pembuatan magnet dari besi dengan pembuatan magnet dari baja. Besi lebih mudah dibuat menjadi magnet dibandingkan baja. Akan tetapi, kemagnetan besi lebih cepat hilang, sedangkan kemagnetan baja lebih tahan lama.
Menurut Haryanto (2004:121) ada beberapa cara membuat magnet:
a.       Cara induksi adalah cara membuat magnet dengan menempelkan benda feromagnetik (paku, jarum, peniti) pada sebuah magnet. Maka pada saat benda menempel pada magnet akan mempunyai medan magnet dan sifat magnet hilang begitu magnet tidak didekatkan.
b.      Cara menggosok. Caranya gosokkan paling sedikit 60 kali paku dengan arah gosokan satu arah saja maka paku akan punya sifat magnet.
c.       Cara aliran listrik. Arus listrik dapat menimbulkan medan magnet. Magnet yang terjadi karena dialiri aliran listrik. Magnet juga dapat dibuat dengan cara mengalirkan arus listrik. Arus listrik dapat menimbulkan medan magnet. Magnet yang terjadi karena dialiri arus listrik disebut elektromagnet.
a.       Cara induksi
enda magnetis yang menempel pada magnet dapat menjadi bersifat seperti magnet. Benda ini dapat menarik benda-benda magnetis lainnya. Sifat kemagnetan ini hanya berlangsung sementara. Jika benda dilepaskan dari magnet, maka sifat kemagnetan akan hilang. Cara membuat magnet seperti itu disebut induksi.
                                
b.      Cara gosokan
Pembuatan magnet dapat dilakukan dengan kutub sebuah magnet. semakin banyak gosokan yang dilakukan, semakin kuat sifat kemagnetan besi atau baja tersebut. sifat kemagnetan ini juga berlangsung sementara.




c.       Cara aliran listrik
Magnet juga dapat dibuat dengan cara mengalirkan arus listrik. arus listrik dapat menimbulkan medan magnet. magnet yang terjadi karena dialiri arus listrik disebut elektromagnet. sifat kemagnetan benda yang dialiri arus listrik berlangsung sementara. jika arus listrik terputus, sifat kemagnetan akan hilang.
                                                                                              
 


Metode Inquiry

Metode Inquiry
Pengertian Metode Inquiry
            Metode inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa (Sanjaya, 2007:193).
            Inquiry sendiri berasal dari bahasa Inggris, yang berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Strategi inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuaannya dengan penuh percaya diri (Gulo, 2002:85).
            Menurut Sagala (2004) dalam Komara (2009/05/20) Metode inquiry merupakan “metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah”. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Tahapan Metode Inquiry
            Menurut Hamalik (2007:221), inquiry menuntut guru sebagai fasilitator, narasumber dan penyuluh kelompok. Dalam pembelajaran yang didasari inquiry ada beberapa tahapan yang harus dilewati, untuk lebih jelasnya, tahapan-tahapan tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :
Tabel 4.2. Tahapan-tahapan dalam Metode Inquiry

Tahap
Aktivitas
I
Pada tahap ini guru membawa situasi masalah dan menentukan prosedur inquiry kepada siswa. Permasalahan yang diajukan kepada siswa adalah masalah yang sederhana yang dapat menimbulkan keheranan, hal ini diperlukan untuk memberikan pengalaman kreasi kepada siswa.
II
Pada tahap ini siswa mengumpulkan data informasi yang mereka lihat atau amati.
III
Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen untuk mengeksploitasi dan menguji secara langsung, pada tahap ini guru berperan untuk mengendalikan siswa bila mengasumsikan suatu variabel yang telah disangkalnya padahal pada kenyataannya tidak. Peran guru lainnya pada tahap ini adalah memperluas informasi yang telah diperoleh. Selama verifikasi siswa boleh mengajukan pertanyaan tentang objek, ciri, kondisi dan peristiwa.
IV
Merupakan tahap dimana siswa mengorganisasi data hasil observasi dan merumuskan penjelasan.
V
Pada tahap ini siswa diminta menganalisis pola penemuan mereka.

Konsep Metode Inquiry
            Metode inquiry berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia, sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra-indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya (Sanjaya, 2007:193).
Ciri Metode Inquiry
            Pertama, inquiry menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi pembelajaran. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Ketiga, tujuan dari penggunaan metode inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Sanjaya, 2007:194).
Prinsip Metode Inquiry
a.         Berorientasi pada pengembangan intelektual, adalah kemampuan berpikir, selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.
b.        Prinsip interaksi, baik interaksi siswa antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi siswa dengan lingkungan.
c.         Prinsip bertanya, adalah peran guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
d.        Prinsip belajar untuk berpikir, adalah belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think) yaitu proses pengembangan otak, baik itu otak kiri, maupun otak kanan (Sanjaya, 2007:197).
Keunggulan Metode Inquiry
            Metode Inquiry merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a.         Metode Inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b.        Metode Inquiry dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c.         Metode Inquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d.        Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar (Sanjaya, 2007:205).
Kelemahan Metode Inquiry
            Di samping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
a.         Jika Metode Inquiry di gunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.        Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.         Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.        Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampu­an siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit di­implementasikan oleh setiap guru (Sanjaya, 2007:206).
 Penerapan Metode Inquiry Pada Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
            Masih banyak temuan bahwa kedudukan dan fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran saat ini cenderung masih dominan. Aktivitas guru masih sangat besar dibandingkan dengan aktivitas siswa yang masih rendah kadarnya. Ketika proses belajar mengajar hendaknya terjalin hubungan yang sifatnya mendidik dan mengembangkan, guru tidak hanya menyampaikan materi akan tetapi sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan siswa.
            Metode inquiry merupakan salah satu metode mengajar. Istilah metode penemuan/inquiry didefinisikan sebagai suatu prosedur yang menekankan belajar  secara individual, manipulasi objek atau pengaturan/pengkondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau penarikan kesimpulan yang dibuat.
            Inquiry adalah suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran (sains) dan mengacu pada salah satu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan atau informasi atau mempelajari suatu gejala (Koes, 2003:12).
            Pembelajaran Sains pada pelaksanaannya haruslah diupayakan dalam kondisi pembelajaran yang kondusif dalam arti pembelajaran itu harus bersifat aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan maka dari itu peranan dan fungsi dalam pembelajaran harus dapat memberikan warna dan bentuk terhadap proses pembelajaran dan dapat menciptakan situasi kelas yang kondusif. Sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal. Sebagaimana dikemukakan oleh Usman (2003:31) bahwa “Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak”.

            Galton dan Harlen (dalam Yasbiati, 2005:27) mengemukakan :
Secara global dimensi yang hendak dicapai oleh serangkai tujuan kurikuler pendidikan sains  dalam kurikulum pendidikan dasar adalah mendidik anak agar memahami konsep sains. Memiliki keterampilan ilmiah, dan religius. Keilmiahan dan tujuan pendidikan Sains sebagaimana dipaparkan di atas sudah tentu tidak serta merta dapat dicapai oleh materi pelajaran Sains. Melainkan dengan melibatkan siswa ke dalam kegiatan didalamnya.

            Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran, siswa dilatih melakukan kegiatan yang dilakukan para ilmuwan dalam memperoleh ilmu pengetahuan untuk menemukan konsep-konsep serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep jika belajar menemukan sendiri dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran tersebut sehingga terjadi suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana dikemukakan oleh Usman (2003:31) bahwa ”Pengajaran yang menggunakan banyak variabel tentu akan cepat membosankan; sebaiknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar karena merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya”.
Dengan demikian banyak hal yang bisa siswa dapatkan melalui metode pengajaran inquiry yang akan menggiring siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih jauhnya dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar Sains. Hal ini dapat disimpulkan bahwa inquiry merupakan prosedur pengajaran yang menekankan kegiatan siswa secara mandiri untuk menemukan konsep-konsep keilmuan terutama pada mata pelajaran Sains yang membutuhkan penguasaan berfikir secara ilmiah, metode ini akan menggiring siswa lebih aktif melakukan penelitian di dalam maupun di luar kelas dengan bimbingan guru.

Rabu, 30 Maret 2011

keterampilan dalam membuka Pelajaran IPS di sekolah

Keterampilan Guru Dalam Membuka Pelajaran Pendidikan IPS
            Yang dimaksud membuka pelajaran pendidikan IPS adalah kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kemampuan dan kesiapan mental siswa harus sesuai dengan dengan tingkat usia dan pengalamannya. Maka pendalaman materi Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar harus pula disesuaikan dengan tingkat usia dan pengalaman tersebut. Siswa yang menjadi objek dan subjek pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar memiliki dasar kesadaran mental yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Dasar kesadaran mental tersebut antara lain : minat. Dorongan untuk mengetahui kenyataan dan dorongan untuk menemukan sendiri gejala-gejala kehidupan (Sumaatmadja, 2004 : 78). Dasar kesadaran siswa dapat dibagi atas:  kesiapan kognitif dan kesiapan efektif.  
            Walaupun yang dipengaruhi keberhasilan belajar adalah tingkat kesiapan secara keseluruhan namun yang sering ditonjolkan adalah kesiapan kognitif. Oleh karena itu, menurut Bruner (dalam Ratumanan, 2004: 66) kesiapan merupakan peristiwa aktif yang mempengaruhi lingkungan belajar. Kesiapan bukan peristiwa yang ditunggu kedatangannya, kesiapan tidaklah bersifat pasif.
            Berdasarkan pendapat tersebut berarti kesiapan harus diciptakan. Tingkat kesiapan merupakan peristiwa yang timbul dari lingkungan belajar yang kaya dan bermakna dihadapkan pada guru yang mendorong siswa dalam berbagai peristiwa belajar yang menarik perhatian.
            Kegiatan membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial semacam ini tidak saja harus dilakukan guru pada awal pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menciptakan suasana siap mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat memberikan usaha-usaha memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari oleh siswa. Siswa yang siap mental untuk belajar semacam itu adalah mereka yang telah mengetahui: tujuan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, langkah-langkah kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut.
            Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha menimbulkan rasa ingin tahu, sikap hangat dan antusias, memvariasikan cara belajarnya, menggunakan alat-alat bantu mengajar, memvariasikan pola interaksi dalam kelas dan sebagainya. Siswa yang perhatian dan motivasinya telah timbul akan nampak aktif dalam melakukan tugas, semangat dan kualitas responnya tinggi.
            Adapula aktivitas yang ditampilkan guru pada saat membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya menertibkan siswa untuk menerima pelajaran baru, mengisi absensi, memberi pengumuman atau mengucapkan salam pembuka pada waktu guru masuk dan bertatap muka dengan siswa, namun aktivitas ini tidak termasuk indikator kemampuan guru dalam membuka pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan guru pada setiap masuk kelas. Kegiatan membuka pelajaran yaitu, menarik perhatian siswa, membangkitkan motivasi, memberi acuan, membuat kaitan (Suciati (2004, 89) .
            Memperhatikan penjelasan di atas, maka uraian selanjutnya lebih memusatkan perhatian pada beberapa indikator keterampilan guru dalam membukan pelajaran.

Menarik Perhatian Siswa
            Banyak cara yang digunakan guru untuk manarik perhatian siswa, antara lain:
1.      Gaya Mengajar Guru Pendidikan IPS
            Perhatian siswa dapat diamati dengan memvariasikan gaya guru mengajar pendidikan IPS. Misalnya memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan  yang berbeda dari biasanya, yang ia kerjakan dalam membuka pelajaran pendidikan IPS. Pertama berdiri di tengah-tengah kelas, kemudian secara perlahan ia berjalan ke belakang atau ke samping dengan kegiatan yang berbeda dan nada suara yang menunjukkan rasa bangga.
2.      Penggunaan Alat-Alat Bantu Mengajar Pendidikan IPS
Alat bantu mengajar atau juga disebut alat peraga adalah media pengajaran yang digunakan untuk memperagakan benda-benda atau gejala-gejala yang tidak dapat secara langsung dapat dibawa kedalam kelas (Sumaatmadja, 2004:117). Guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial seperti gambar, model, skema, dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa, dapat pula membangkitkan motivasi dan memungkinkan terjadinya kaitan antara hal-hal yang telah diketahui siswa dengan hal-hal yang baru yang akan dipelajari
3.      Pola Interaksi yang bervariasi
Variasi pola interaksi guru-siswa yang biasa, seperti guru menerangkan, siswa mendengar, atau guru bertanya, siswa menjawab, hanya dapat menimbulkan rangsangan permulaan saja. Siswa belum sepenuhnya dapat memusatkan perhatian kepada hal-hal yang akan dipelajari. Oleh karena itu agar siswa dapat tertarik perhatiannya guru hendaknya mengadakan pola interaksi yang bervariasi dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar, seperti guru memberi perintah, guru memberikan kesempatan kepada siswa bertanya, guru atau siswa lainnya menjawab pertanyaan itu, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya dalam diskusi kelompok kecil atau dalam suatu eksperimen, guru mengemukakan masalah yang menarik ke seluruh kelas lalu siswa diminta mengemukakan pendapat atau guru menunjukkan barang yang bisa ditonton seperti model-model yang ada manfaatnya lalu siswa diminta untuk melihatnya secara bergiliran baik secara kelompok ataupun sendiri. 
Membangkitkan Motivasi
Masalah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah memilih secara hati-hati yang menjadi perhatian siswa. Hal-hal yang menjadi perhatian siswa itu dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar. Dengan adanya motivasi proses belajat mengajar menjadi dipermudah. Oleh karena itu guru hendaknya melaksanakan bagaimana cara untuk membangkitkan motivasi ( Suciati, 2004: 78). Cara-caranya yaitu :
1)      Dengan Kehangatan dan Keantusiasan
Guru bersikap ramah, antusias, bersahabat dan hangat. Sebab sikap yang demikian itu dapat membangkitka faktor-faktor dari dalam yang mendorong tingkah laku dan kesenangan dalam mengerjakan tugas, maka dengan demikian siswa akan bangkit motivasinya.
2)      Dengan menimbulkan rasa ingin tahu
Guru dapat menimbulkan motivasinya dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu dan keheranan siswa. Hal ini dimaksudkan dengan dilandasi oleh hal-hal yang menarik dan merangsang keingintahuan siswa dan didorong untuk membuktikan sendiri apa yang telah dipelajarinya dengan kenyataan sehari-hari. Bila guru telah berhasil menyampaikan pelajaran secara menarik dan bermakna bagi siswa-siswa secara tajam dan terarah, maka siswa dapat menemukan fakta, gejala dan masalah sosial yang terjadi di sekitarnya. Mereka akan terdorong untuk mengetahui hal-hal yang akan dipelajari pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
3)      Mengemukakan ide yang bertentangan
Untuk membangkitkan motivasi siwa, guru dapat melontarkan ide-ide yang bertentangan dengan mengajukan masalah atau kondisi dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial, guru mengajukan masalah-masalah berikut : “Kalau transmigrasi memungkinkan bagi kemakmuran penduduk, mengapa banyak penduduk di Palau Jawa enggan bertransmigrasi”.
4)      Dengan memperhatikan minat siswa
Guru dapat membangkitkan motivasi anak dengan cara menyesuaikan dengan topik-topik pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan minat siswa. Minat siswa merupakan gudang yang kaya bagi aktivitas yang dapat dirancang oleh guru untuk membangkitkan motivasi. Hanya perlu diingat bahwa minat siswa dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, letak sekolah dan keadaan sosial ekonomi. Misalnya bagi siswa SD, permainan, cerita, aktivitas membuat sesuatu dan menemukan bagaimana sesuatu itu dijalankan seperti mobil-mobilan bisa berjalan adalah menarik minat siswa.

Memberikan Acuan
            Dalam hubungannya dengan membuka pelajaran Pendidikan IPS, memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan guru adalah :
1). Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas 
            Guru hendaknya lebih terdahulu mengemukakan tujuan belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh siswa agar mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang lingkup materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang akan dipelajari serta tugas-tugas yang akan dikerjakan. Semakin jelas dan mendetail tujuan pengajaran dirumuskan, makin mudah bagi guru untuk mengontrol batas-batas tugas yang harus dilakuakan. Hasan (2003:19) mengemukakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai berikut : menggambarkan apa yang hendak dilakukan oleh siswa atau bagaimana ia akan berbuat, tidak memberikan tafsiran yang berbeda bagi siapapun yang mengadakan penilaian, mneyebutkan syarat-syarat pelaksanaan latihan dan menyebutkan standard yang akan dipakai untuk penilaian.
2). Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
            Pada permulaan atau pada saat tertentu selama penyajian pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siswa akan terarah perhatiannya untuk mempelajari materi tersebut jika guru dapat memberi saran-saran tentang langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. Dalam hubungan ini guru perlu menguasai siswa, mengetahui tujuan yang akan dicapai, kondisi belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar itu merupakan proses yang harus dilalui siswa dalam belajar. Sedangkan bagi guru menjadi petunjuk dalam mengajar.
3). Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas  
            Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas. Misalnya dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal yang positif dari sifat-sifat tentang suatu konsep manusia, benda, gambar dan sebagainya.
4). Mengajukan pertanyaan –pertanyaan
            Pertanyaan –pertanyaan yang diajukan oleh guru sebelum memulai menjelaskan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi pelajaran yang akan dipelajari. Tujuannya adalah agar siswa dapat memahami bahan pelajaran yang hendak diajarkan dalam dua jam pelajaran. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dimaksudkan agar siswa mengetahui pokok-pokok pembahasan tersebut, sehigga siap mental dan tertarik untuk mengikutinya.

Membuat Kaitan
            Jika guru yang akan mengajarkan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  yang baru perlu kiranya ia menghubungkan dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman siswa terdahulu atau dengan minat dan kebutuhan siswa untuk mempermudah pemahaman. Hal-hal yang telah dikenal, pengalaman-pengalaman, minat dan kebutuhan-kebutuhan siswa itulah yang disebut pengait, yaitu: mengajukan pertanyaana persepsi, menbuat kaitan antara aspek-aspek yang relevan antara bidang studi yang telah dikenal siswa, membandingkan atau mempertentangkan pengetahuanbaru dengan penegtahuan yang telah dikenalnya.

Keterampilan Guru Dalam Menutup Pelajaran IPS di SD
            Menjelang akhir suatu pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau setiap penggal kegiatan guru harus melakukan kegiatan penutup pelajaran, agar siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari selama proses belajar mengajar berlangsung. Kegiatan yang dilakukan guru dalam menutup pelajaran menurut Rusyan (2004: 65) adalah meninjau kembali, mengevaluasi, dan tindak lanjut.
            Memperhatikan penjelasan di atas, maka uraian selanjutnya lebih memusatkan perhatian pada beberapa indikator keterampilan guru dalam menutup pelajaran.
a. Meninjau Kembali
Menjelang akhir suatu pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau pada setiap penggal kegiatan guru harus meninjau kembali apakah inti pelajaran yang telah diajarkan telah dikuasai oleh siswa. Ada dua cara meninjau kembali pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu :
1). Merangkum inti pelajaran
            Pada dasarnya kegiatan merangkum inti pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ini terdapat sepanjang proses pelajaran dan setelah setiap penggalan. Misalnya pada saat guru selesai menjelaskan tentang lingkungan sekitar siswa atau jika guru membuat kesimpulan secara lisan hasil diskusi yang ditugaskan pada siswa setelah selesai sejumlah pertanyaan dijawab oleh siswa, pada saat menjelang pergantian topik bahasan dan tentu saja pada saat pengajaran diakhiri. Selain guru, siswa dapat pula diminta membuat rangkuman secara singkat, tetapi jika rangkuman yang dibuat oleh siswa salah atau kurang sempurna, guru harus membetulkan atau menyempurnakannya.
2). Menbuat ringkasan
            Cara lain dapat menempuh untuk memantapkan pokok-pokok materi yang diajarkan adalah membuat ringkasan. Selain manfaat tersebut dengan ringkasan itu siswa tidak memiliki buku sumber atau siswa yang lambat belajar dapat mempelajari kembali. Pembuatan ringkasan ini dapat dilakukan oleh guru atau dapat pula dilakukan siwa secara perorangan atau kelompok dan dapat pula dilakukan oleh guru dan siswa bersama-sama.
b. Mengevaluasi
            Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang konsep yang diajarkan selama satu jam pertemuan atau sepenggal kegiatan tertentu adalah penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas secara tertulis sekaligus pula sebagai umpan balik untuk mengetahui efektivitas sajian. Bentuk evaluasi itu secara terperinci dalah sebagai berikut :
a)      Mendemontrasikan keterampilan pada akhir satu penggal kegiatan, atau pada akhir sajian;
b)      Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain;
c)      Mengekspresikan pendapat siswa sendiri. Guru dapat meminta siswa untuk berkomentar tentang keefektifan suatu demontrasi yang dilakukan guru atau siswa-siswa lain;
d)     Soal-soal tertulis, guru dapat memberikan soal-soal tertulis untuk dikerjakan siswa. Soal-soal tertulis itu dapat berbentuk uraian, tes objektif atau melengkapi lembaran kerja siswa (LKS).
c. Tindak Lanjut
            Sebagai kegiatan akhir setelah melakukan evaluasi, perlu memberikan kegiatan tindak lanjut berupa tugas-tugas sabagai bahan pengayaan atau pemantapan terhadap bahan yang diajarkan selama tatap muka. Selain itu penanaman nilai dan sikap jangan dilupakan, misalnya : petuah, nasehat, pesan untuk belajar di rumah perlu disampaikan terutama pada akhir seluruh kegiatan atau disampaikan pada setiap akan ganti pelajaran.