Cari Blog Ini

Kamis, 31 Maret 2011

Metode Inquiry

Metode Inquiry
Pengertian Metode Inquiry
            Metode inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa (Sanjaya, 2007:193).
            Inquiry sendiri berasal dari bahasa Inggris, yang berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Strategi inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuaannya dengan penuh percaya diri (Gulo, 2002:85).
            Menurut Sagala (2004) dalam Komara (2009/05/20) Metode inquiry merupakan “metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah”. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Tahapan Metode Inquiry
            Menurut Hamalik (2007:221), inquiry menuntut guru sebagai fasilitator, narasumber dan penyuluh kelompok. Dalam pembelajaran yang didasari inquiry ada beberapa tahapan yang harus dilewati, untuk lebih jelasnya, tahapan-tahapan tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :
Tabel 4.2. Tahapan-tahapan dalam Metode Inquiry

Tahap
Aktivitas
I
Pada tahap ini guru membawa situasi masalah dan menentukan prosedur inquiry kepada siswa. Permasalahan yang diajukan kepada siswa adalah masalah yang sederhana yang dapat menimbulkan keheranan, hal ini diperlukan untuk memberikan pengalaman kreasi kepada siswa.
II
Pada tahap ini siswa mengumpulkan data informasi yang mereka lihat atau amati.
III
Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen untuk mengeksploitasi dan menguji secara langsung, pada tahap ini guru berperan untuk mengendalikan siswa bila mengasumsikan suatu variabel yang telah disangkalnya padahal pada kenyataannya tidak. Peran guru lainnya pada tahap ini adalah memperluas informasi yang telah diperoleh. Selama verifikasi siswa boleh mengajukan pertanyaan tentang objek, ciri, kondisi dan peristiwa.
IV
Merupakan tahap dimana siswa mengorganisasi data hasil observasi dan merumuskan penjelasan.
V
Pada tahap ini siswa diminta menganalisis pola penemuan mereka.

Konsep Metode Inquiry
            Metode inquiry berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia, sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra-indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya (Sanjaya, 2007:193).
Ciri Metode Inquiry
            Pertama, inquiry menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi pembelajaran. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Ketiga, tujuan dari penggunaan metode inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Sanjaya, 2007:194).
Prinsip Metode Inquiry
a.         Berorientasi pada pengembangan intelektual, adalah kemampuan berpikir, selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.
b.        Prinsip interaksi, baik interaksi siswa antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi siswa dengan lingkungan.
c.         Prinsip bertanya, adalah peran guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
d.        Prinsip belajar untuk berpikir, adalah belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think) yaitu proses pengembangan otak, baik itu otak kiri, maupun otak kanan (Sanjaya, 2007:197).
Keunggulan Metode Inquiry
            Metode Inquiry merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a.         Metode Inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b.        Metode Inquiry dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c.         Metode Inquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d.        Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar (Sanjaya, 2007:205).
Kelemahan Metode Inquiry
            Di samping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
a.         Jika Metode Inquiry di gunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.        Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.         Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.        Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampu­an siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit di­implementasikan oleh setiap guru (Sanjaya, 2007:206).
 Penerapan Metode Inquiry Pada Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
            Masih banyak temuan bahwa kedudukan dan fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran saat ini cenderung masih dominan. Aktivitas guru masih sangat besar dibandingkan dengan aktivitas siswa yang masih rendah kadarnya. Ketika proses belajar mengajar hendaknya terjalin hubungan yang sifatnya mendidik dan mengembangkan, guru tidak hanya menyampaikan materi akan tetapi sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan siswa.
            Metode inquiry merupakan salah satu metode mengajar. Istilah metode penemuan/inquiry didefinisikan sebagai suatu prosedur yang menekankan belajar  secara individual, manipulasi objek atau pengaturan/pengkondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau penarikan kesimpulan yang dibuat.
            Inquiry adalah suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran (sains) dan mengacu pada salah satu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan atau informasi atau mempelajari suatu gejala (Koes, 2003:12).
            Pembelajaran Sains pada pelaksanaannya haruslah diupayakan dalam kondisi pembelajaran yang kondusif dalam arti pembelajaran itu harus bersifat aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan maka dari itu peranan dan fungsi dalam pembelajaran harus dapat memberikan warna dan bentuk terhadap proses pembelajaran dan dapat menciptakan situasi kelas yang kondusif. Sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal. Sebagaimana dikemukakan oleh Usman (2003:31) bahwa “Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak”.

            Galton dan Harlen (dalam Yasbiati, 2005:27) mengemukakan :
Secara global dimensi yang hendak dicapai oleh serangkai tujuan kurikuler pendidikan sains  dalam kurikulum pendidikan dasar adalah mendidik anak agar memahami konsep sains. Memiliki keterampilan ilmiah, dan religius. Keilmiahan dan tujuan pendidikan Sains sebagaimana dipaparkan di atas sudah tentu tidak serta merta dapat dicapai oleh materi pelajaran Sains. Melainkan dengan melibatkan siswa ke dalam kegiatan didalamnya.

            Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran, siswa dilatih melakukan kegiatan yang dilakukan para ilmuwan dalam memperoleh ilmu pengetahuan untuk menemukan konsep-konsep serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep jika belajar menemukan sendiri dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran tersebut sehingga terjadi suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana dikemukakan oleh Usman (2003:31) bahwa ”Pengajaran yang menggunakan banyak variabel tentu akan cepat membosankan; sebaiknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar karena merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya”.
Dengan demikian banyak hal yang bisa siswa dapatkan melalui metode pengajaran inquiry yang akan menggiring siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih jauhnya dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar Sains. Hal ini dapat disimpulkan bahwa inquiry merupakan prosedur pengajaran yang menekankan kegiatan siswa secara mandiri untuk menemukan konsep-konsep keilmuan terutama pada mata pelajaran Sains yang membutuhkan penguasaan berfikir secara ilmiah, metode ini akan menggiring siswa lebih aktif melakukan penelitian di dalam maupun di luar kelas dengan bimbingan guru.

Rabu, 30 Maret 2011

keterampilan dalam membuka Pelajaran IPS di sekolah

Keterampilan Guru Dalam Membuka Pelajaran Pendidikan IPS
            Yang dimaksud membuka pelajaran pendidikan IPS adalah kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kemampuan dan kesiapan mental siswa harus sesuai dengan dengan tingkat usia dan pengalamannya. Maka pendalaman materi Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar harus pula disesuaikan dengan tingkat usia dan pengalaman tersebut. Siswa yang menjadi objek dan subjek pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar memiliki dasar kesadaran mental yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Dasar kesadaran mental tersebut antara lain : minat. Dorongan untuk mengetahui kenyataan dan dorongan untuk menemukan sendiri gejala-gejala kehidupan (Sumaatmadja, 2004 : 78). Dasar kesadaran siswa dapat dibagi atas:  kesiapan kognitif dan kesiapan efektif.  
            Walaupun yang dipengaruhi keberhasilan belajar adalah tingkat kesiapan secara keseluruhan namun yang sering ditonjolkan adalah kesiapan kognitif. Oleh karena itu, menurut Bruner (dalam Ratumanan, 2004: 66) kesiapan merupakan peristiwa aktif yang mempengaruhi lingkungan belajar. Kesiapan bukan peristiwa yang ditunggu kedatangannya, kesiapan tidaklah bersifat pasif.
            Berdasarkan pendapat tersebut berarti kesiapan harus diciptakan. Tingkat kesiapan merupakan peristiwa yang timbul dari lingkungan belajar yang kaya dan bermakna dihadapkan pada guru yang mendorong siswa dalam berbagai peristiwa belajar yang menarik perhatian.
            Kegiatan membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial semacam ini tidak saja harus dilakukan guru pada awal pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menciptakan suasana siap mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat memberikan usaha-usaha memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari oleh siswa. Siswa yang siap mental untuk belajar semacam itu adalah mereka yang telah mengetahui: tujuan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, langkah-langkah kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut.
            Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha menimbulkan rasa ingin tahu, sikap hangat dan antusias, memvariasikan cara belajarnya, menggunakan alat-alat bantu mengajar, memvariasikan pola interaksi dalam kelas dan sebagainya. Siswa yang perhatian dan motivasinya telah timbul akan nampak aktif dalam melakukan tugas, semangat dan kualitas responnya tinggi.
            Adapula aktivitas yang ditampilkan guru pada saat membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya menertibkan siswa untuk menerima pelajaran baru, mengisi absensi, memberi pengumuman atau mengucapkan salam pembuka pada waktu guru masuk dan bertatap muka dengan siswa, namun aktivitas ini tidak termasuk indikator kemampuan guru dalam membuka pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan guru pada setiap masuk kelas. Kegiatan membuka pelajaran yaitu, menarik perhatian siswa, membangkitkan motivasi, memberi acuan, membuat kaitan (Suciati (2004, 89) .
            Memperhatikan penjelasan di atas, maka uraian selanjutnya lebih memusatkan perhatian pada beberapa indikator keterampilan guru dalam membukan pelajaran.

Menarik Perhatian Siswa
            Banyak cara yang digunakan guru untuk manarik perhatian siswa, antara lain:
1.      Gaya Mengajar Guru Pendidikan IPS
            Perhatian siswa dapat diamati dengan memvariasikan gaya guru mengajar pendidikan IPS. Misalnya memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan  yang berbeda dari biasanya, yang ia kerjakan dalam membuka pelajaran pendidikan IPS. Pertama berdiri di tengah-tengah kelas, kemudian secara perlahan ia berjalan ke belakang atau ke samping dengan kegiatan yang berbeda dan nada suara yang menunjukkan rasa bangga.
2.      Penggunaan Alat-Alat Bantu Mengajar Pendidikan IPS
Alat bantu mengajar atau juga disebut alat peraga adalah media pengajaran yang digunakan untuk memperagakan benda-benda atau gejala-gejala yang tidak dapat secara langsung dapat dibawa kedalam kelas (Sumaatmadja, 2004:117). Guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial seperti gambar, model, skema, dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa, dapat pula membangkitkan motivasi dan memungkinkan terjadinya kaitan antara hal-hal yang telah diketahui siswa dengan hal-hal yang baru yang akan dipelajari
3.      Pola Interaksi yang bervariasi
Variasi pola interaksi guru-siswa yang biasa, seperti guru menerangkan, siswa mendengar, atau guru bertanya, siswa menjawab, hanya dapat menimbulkan rangsangan permulaan saja. Siswa belum sepenuhnya dapat memusatkan perhatian kepada hal-hal yang akan dipelajari. Oleh karena itu agar siswa dapat tertarik perhatiannya guru hendaknya mengadakan pola interaksi yang bervariasi dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar, seperti guru memberi perintah, guru memberikan kesempatan kepada siswa bertanya, guru atau siswa lainnya menjawab pertanyaan itu, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya dalam diskusi kelompok kecil atau dalam suatu eksperimen, guru mengemukakan masalah yang menarik ke seluruh kelas lalu siswa diminta mengemukakan pendapat atau guru menunjukkan barang yang bisa ditonton seperti model-model yang ada manfaatnya lalu siswa diminta untuk melihatnya secara bergiliran baik secara kelompok ataupun sendiri. 
Membangkitkan Motivasi
Masalah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah memilih secara hati-hati yang menjadi perhatian siswa. Hal-hal yang menjadi perhatian siswa itu dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar. Dengan adanya motivasi proses belajat mengajar menjadi dipermudah. Oleh karena itu guru hendaknya melaksanakan bagaimana cara untuk membangkitkan motivasi ( Suciati, 2004: 78). Cara-caranya yaitu :
1)      Dengan Kehangatan dan Keantusiasan
Guru bersikap ramah, antusias, bersahabat dan hangat. Sebab sikap yang demikian itu dapat membangkitka faktor-faktor dari dalam yang mendorong tingkah laku dan kesenangan dalam mengerjakan tugas, maka dengan demikian siswa akan bangkit motivasinya.
2)      Dengan menimbulkan rasa ingin tahu
Guru dapat menimbulkan motivasinya dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu dan keheranan siswa. Hal ini dimaksudkan dengan dilandasi oleh hal-hal yang menarik dan merangsang keingintahuan siswa dan didorong untuk membuktikan sendiri apa yang telah dipelajarinya dengan kenyataan sehari-hari. Bila guru telah berhasil menyampaikan pelajaran secara menarik dan bermakna bagi siswa-siswa secara tajam dan terarah, maka siswa dapat menemukan fakta, gejala dan masalah sosial yang terjadi di sekitarnya. Mereka akan terdorong untuk mengetahui hal-hal yang akan dipelajari pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
3)      Mengemukakan ide yang bertentangan
Untuk membangkitkan motivasi siwa, guru dapat melontarkan ide-ide yang bertentangan dengan mengajukan masalah atau kondisi dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial, guru mengajukan masalah-masalah berikut : “Kalau transmigrasi memungkinkan bagi kemakmuran penduduk, mengapa banyak penduduk di Palau Jawa enggan bertransmigrasi”.
4)      Dengan memperhatikan minat siswa
Guru dapat membangkitkan motivasi anak dengan cara menyesuaikan dengan topik-topik pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan minat siswa. Minat siswa merupakan gudang yang kaya bagi aktivitas yang dapat dirancang oleh guru untuk membangkitkan motivasi. Hanya perlu diingat bahwa minat siswa dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, letak sekolah dan keadaan sosial ekonomi. Misalnya bagi siswa SD, permainan, cerita, aktivitas membuat sesuatu dan menemukan bagaimana sesuatu itu dijalankan seperti mobil-mobilan bisa berjalan adalah menarik minat siswa.

Memberikan Acuan
            Dalam hubungannya dengan membuka pelajaran Pendidikan IPS, memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan guru adalah :
1). Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas 
            Guru hendaknya lebih terdahulu mengemukakan tujuan belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh siswa agar mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang lingkup materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang akan dipelajari serta tugas-tugas yang akan dikerjakan. Semakin jelas dan mendetail tujuan pengajaran dirumuskan, makin mudah bagi guru untuk mengontrol batas-batas tugas yang harus dilakuakan. Hasan (2003:19) mengemukakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai berikut : menggambarkan apa yang hendak dilakukan oleh siswa atau bagaimana ia akan berbuat, tidak memberikan tafsiran yang berbeda bagi siapapun yang mengadakan penilaian, mneyebutkan syarat-syarat pelaksanaan latihan dan menyebutkan standard yang akan dipakai untuk penilaian.
2). Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
            Pada permulaan atau pada saat tertentu selama penyajian pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siswa akan terarah perhatiannya untuk mempelajari materi tersebut jika guru dapat memberi saran-saran tentang langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. Dalam hubungan ini guru perlu menguasai siswa, mengetahui tujuan yang akan dicapai, kondisi belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar itu merupakan proses yang harus dilalui siswa dalam belajar. Sedangkan bagi guru menjadi petunjuk dalam mengajar.
3). Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas  
            Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas. Misalnya dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal yang positif dari sifat-sifat tentang suatu konsep manusia, benda, gambar dan sebagainya.
4). Mengajukan pertanyaan –pertanyaan
            Pertanyaan –pertanyaan yang diajukan oleh guru sebelum memulai menjelaskan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi pelajaran yang akan dipelajari. Tujuannya adalah agar siswa dapat memahami bahan pelajaran yang hendak diajarkan dalam dua jam pelajaran. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dimaksudkan agar siswa mengetahui pokok-pokok pembahasan tersebut, sehigga siap mental dan tertarik untuk mengikutinya.

Membuat Kaitan
            Jika guru yang akan mengajarkan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  yang baru perlu kiranya ia menghubungkan dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman siswa terdahulu atau dengan minat dan kebutuhan siswa untuk mempermudah pemahaman. Hal-hal yang telah dikenal, pengalaman-pengalaman, minat dan kebutuhan-kebutuhan siswa itulah yang disebut pengait, yaitu: mengajukan pertanyaana persepsi, menbuat kaitan antara aspek-aspek yang relevan antara bidang studi yang telah dikenal siswa, membandingkan atau mempertentangkan pengetahuanbaru dengan penegtahuan yang telah dikenalnya.

Keterampilan Guru Dalam Menutup Pelajaran IPS di SD
            Menjelang akhir suatu pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau setiap penggal kegiatan guru harus melakukan kegiatan penutup pelajaran, agar siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari selama proses belajar mengajar berlangsung. Kegiatan yang dilakukan guru dalam menutup pelajaran menurut Rusyan (2004: 65) adalah meninjau kembali, mengevaluasi, dan tindak lanjut.
            Memperhatikan penjelasan di atas, maka uraian selanjutnya lebih memusatkan perhatian pada beberapa indikator keterampilan guru dalam menutup pelajaran.
a. Meninjau Kembali
Menjelang akhir suatu pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau pada setiap penggal kegiatan guru harus meninjau kembali apakah inti pelajaran yang telah diajarkan telah dikuasai oleh siswa. Ada dua cara meninjau kembali pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu :
1). Merangkum inti pelajaran
            Pada dasarnya kegiatan merangkum inti pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ini terdapat sepanjang proses pelajaran dan setelah setiap penggalan. Misalnya pada saat guru selesai menjelaskan tentang lingkungan sekitar siswa atau jika guru membuat kesimpulan secara lisan hasil diskusi yang ditugaskan pada siswa setelah selesai sejumlah pertanyaan dijawab oleh siswa, pada saat menjelang pergantian topik bahasan dan tentu saja pada saat pengajaran diakhiri. Selain guru, siswa dapat pula diminta membuat rangkuman secara singkat, tetapi jika rangkuman yang dibuat oleh siswa salah atau kurang sempurna, guru harus membetulkan atau menyempurnakannya.
2). Menbuat ringkasan
            Cara lain dapat menempuh untuk memantapkan pokok-pokok materi yang diajarkan adalah membuat ringkasan. Selain manfaat tersebut dengan ringkasan itu siswa tidak memiliki buku sumber atau siswa yang lambat belajar dapat mempelajari kembali. Pembuatan ringkasan ini dapat dilakukan oleh guru atau dapat pula dilakukan siwa secara perorangan atau kelompok dan dapat pula dilakukan oleh guru dan siswa bersama-sama.
b. Mengevaluasi
            Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang konsep yang diajarkan selama satu jam pertemuan atau sepenggal kegiatan tertentu adalah penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas secara tertulis sekaligus pula sebagai umpan balik untuk mengetahui efektivitas sajian. Bentuk evaluasi itu secara terperinci dalah sebagai berikut :
a)      Mendemontrasikan keterampilan pada akhir satu penggal kegiatan, atau pada akhir sajian;
b)      Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain;
c)      Mengekspresikan pendapat siswa sendiri. Guru dapat meminta siswa untuk berkomentar tentang keefektifan suatu demontrasi yang dilakukan guru atau siswa-siswa lain;
d)     Soal-soal tertulis, guru dapat memberikan soal-soal tertulis untuk dikerjakan siswa. Soal-soal tertulis itu dapat berbentuk uraian, tes objektif atau melengkapi lembaran kerja siswa (LKS).
c. Tindak Lanjut
            Sebagai kegiatan akhir setelah melakukan evaluasi, perlu memberikan kegiatan tindak lanjut berupa tugas-tugas sabagai bahan pengayaan atau pemantapan terhadap bahan yang diajarkan selama tatap muka. Selain itu penanaman nilai dan sikap jangan dilupakan, misalnya : petuah, nasehat, pesan untuk belajar di rumah perlu disampaikan terutama pada akhir seluruh kegiatan atau disampaikan pada setiap akan ganti pelajaran.

Senin, 28 Maret 2011

tujuan IPS di SD


Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
            Tujuan merupakan komponen yang harus diperhatikan dalam mengembangkan suatu kurikulum. Zais (dalam Sumaatmaja, 1994:27) menegaskan bahwa sebagai komponen dalam kurikulum tujuan adalah bagian yang paling sensitif, sebab tujuan tidak akan hanya mempengaruhi bentuk kurikulum melainkan juga secara langsung menjadi fokus dari suatu program pendidikan.
Sumber tujuan dapat dikelompokkan menjadi tiga  sumber yaitu : sumber empirik, sumber filosofi, dan sumber kajian  (Zais dalam Sumaatmaja, 1994: 31). Sumber empiris mengacu kepada apa yang diinginkan masyarakat, sumber filosofi merupakan kajian yang diisyaratkan untuk dicapai dalam suatu program pendidikan dan sumber kajian merupakan tujuan apa yang harus dicapai melalui bidang studi yang bersangkutan. Ketiga sumber di atas digunakan dalam mengembangkan tujuan, kemudian dikontruksi dalam pola hierarkhi tujuan. Sumber empirik dan sumber filosofis dikelompokkan menjadi tujuan akhir atau tujuan pendidikan nasional, sedangkan sumber bidang kajian dikelompokkan kedalam tujuan yang merupakan alat mencapai tujuan akhir.
            Dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dirincilah tujuan dengan ruang lingkup dan sasaran yang lebih jelas. Tujuan Pendidikan nasional dirinci menjadi tujuan institusional, dimana tujuan pendidikan dasar sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No 20 tahun 2003 yaitu :   
“Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik dan untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah”.

Tujuan institusional dirinci menjadi tujuan kurikuler dan mencapainya dilakukan oleh bidang studi/mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang disajikan di sekolah dasar adalah pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Pengembangan tujuan Pendidikan IPS menurut Schuncke (dalam Simanguson,2007:8) didasarkan atas tiga karakteristik yakni : pengetahuan, nilai sikap, proses/keterampilan. 
              Pendapat tersebut merupakan cakupan dalam mengembangkan tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yaitu pelajaran IPS bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Secara rinci tujuan pndidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar mempunyai tujuan sebagai berikut :Mengenalkan kepada siswa tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya,  Memberikan pengetahuan  agar siswa memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan yang terjadi di sekitarnya, Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal kebutuhan-kebutuhan serta menyadari bahwa manusia lain pun memiliki kebutuhan, Menghargai bidaya masyarakat sekitar, bangsa dan juga bangsa lainnya, Memahami dan dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri maupun dalan hubungannya dengan orang lain dan bangsa-bangsa lain di dunia,  Memahami bahwa antar manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan serta dapat menghormati harkat dan nilai manusia, Memupuk rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan dan hasilnya serta menghargai setiap jenis pekerjaan maupun hasil pekerjaan yang dilakukan orang lain, Memahami dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan, pemantapan dan pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, Memahami dan menghargai sejarah bangsanya, serta hak-haknya sebagai manusia hidup di suatu negara yang merdeka dan memahami cara hidup yang demokratis.

Proses Belajar Mengajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah  Dasar

            Proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan interaksi antar siswa dengan guru dalam usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Belajar tertuju kepada siswa, sedang mengajar tertuju kepada kegiatan guru dan siswa. Proses belajar mengajar merupakan pertautan dari kegiatan siswa dan guru, dalam hal ini Sudjana (2003:6) mengemukakan bahwa :
            Mengajar atau teaching merupakan kegiatan atau perlakuan profesional yang kemaren oleh guru. Belajar merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh siswa sebgai atau respon terhadap kegiatan mengajar yang telah dilakukan oleh guru. Keseluruhan pertautan kegiatan memungkinkan berkenaan terjadi interaksi belajar mengajar yang disebut pengajaran (instruction)

            Selanjutnya proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial mengacu kepada strategi pembelajaran dan aktivitas belajar siswa. Srategi pembelajaran berkaitan dengan masalah, cara atau sistem penyampaian materi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan. Sudjana (2003:147) mengemukakan bahwa srategi pembelajaran pada hakekatnya adalah tindakan nyata dari guru yang melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efesien dan efektif
            Dalam mengembangkan perencanaan pengajaran  Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, pertama yang perlu diperhatikan  adalah tujuan dan organisasi kurikulum  itu perlu dipertimbangkan berbagai variabel fakor kejelasan, lingkungan kondusif, konsistensi dan kontinuitas (Sumaatmaja, 1994:38). Dengan demikian,  proses belajar mengajar tidak hanya sekedar menentukan metode pengajaran saja, juga mempertimbangkan kebermaknaan bagi siswa. Piaget  (dalam Sumaatmaja, 1994:109-111) menekankan bahwa terjadinya asimilasi adalah kelanjutan dari proses akomodasi saja, tetapi harus dilanjutkan samapai kepada proses asimilasi agar belajar memberi makna bagi siswa. Apabila tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial SD meliputi tiga aspek (pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai) maka proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial SD mengacu kepada tujuan tersebut. Dalam hal ini proses diarahkan kepada pengembangan kemampuan siswa menyerapkan pengetahuan sosial (fakta, konsep dan generalisasi) dan mengembangkan keterampilan sosial. Disini tampak bahwa guru tidak dapat menentukan secara kaku metode apa yang akan digunakan, sebab penggunaan metode dalam belajar mengajar akan dipengaruhi oleh tujuan materi.
           
Keterampilan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan  IPS di SD
            Keterampilan  guru merupakan seperangkat perilaku nyata guru pada waktu memberikan pelajaran pada siswanya (Charles Jhonson, dalam Rochman Natawidjaya,2000: 153). Dalam memberikan pelajaran tersebut tentunya harus  dan memerlukan beberapa kemampuan profesional dalam melakukan proses belajar mengajar pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di SD tersebut.
            Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kriteria profesional guru, maka rincian kendalanya dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Natawidjaya (2000: 190) mengatakan guru harus memiliki beberapa keterampilan yaitu yaitu: Mempunyai kemampuan mengembangkan kepribadian, Menguasai landasan kependidikan, Menguasai bahan pengajaran, Mampu menyusun program pengajaran, Mampu melaksanakan program pengajaran, Mampu melihat dari proses yang telah dilaksanakan, Mampu mengadakan program bimbingan, Menyelenggarakan administrasi sekolah, Berinteraksi dengan teman sejawat dan masyarakat, Menyelenggarakan penelitian untuk keperluan pengajaran.
Dari uraian di atas jelas bahwa setiap guru dituntut memiliki kompetensi untuk mengembangkan profesinya. Kompetensi guru ini dapat terwujud jika setiap guru mempunyai latar belakang yang cukup memadai, serta diteruskan dengan monitoring untuk pembinaan secara berkelanjutan. Guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab yang kompleks. Mengajar pendidikan IPS dengan baik dapat tercapai dengan optimal bila guru memenuhi persyaratan yang memadai serta perencanaan yang matang sebelum mengajar.
Maka perubahan yang dilakukan guru dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugas mengajar pendidikan IPS sehari-hari di kelas harus inovatif. Lebih khususnya lagi performasi yang dimaksud adalah keterampilan guru dalam membuka pelajaran, pelaksanaan pelajaran dan menutup atau mengakhiri pelajaran (Suciati :1994). Ketiga kemampuan guru tersebut tampil secara terpadu dan dilaksanakan secara bertahap.

ilmu pengetahuan sosial


Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
            Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) adalah terjemahan atau adaptasi dalam bahasa indonesia dari bahasa inggris: social studies, sebagai bidang studi yang diajarkan pada sekolah-sekolah (dasar dan menengah) di Amerika, Inggris, dan Australia. Beberapa pengarang lebih menyukai istilah Studi Sosial sebagai penerjemahan dari Social Studies atau pengajaran ilmu-ilmu sosial dari istilah pendidikan IPS.
            Pendidikan IPS sebagai salah satu bidang studi dalam kurikulum sekolah mulai diajarkan sejak tahun 1975 yaitu bidang studi pendidikan IPS, dalam kurikulum SD, SLTP, maupun SMU dengan memakai pendekatan korelasi, karena pembahasan masih kelihatan batas yang satu dengan yang lainnya meskipun merupakan satu bidang studi. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  istilah Pendidikan IPS dipakai untuk memberi nama pelajaran ilmu-ilmu sosial pada tingkat SD dan SLTP dengan menggunakan pendekatan integral,  sedangkan untuk SMU istilah pendidikan IPS sudah tidak digunakan lagi memberi nama kelompok mata pelajaran IPS karena telah diorganisir.
            Dalam kaitannya pengertian Pendidikan IPS, Nursid Sumaatmadja (1994:7) mengemukakan batasan pengertian ilmu-ilmu sosial beserta ruang lingkupnya sebagai berikut. :
            Ilmu sosial adalah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari manusia di masyarakat, sedangkan tingkah laku manusia di masyarakat itu banyak aspeknya seperti aspek ekonomi, aspek sosial, aspek mental, aspek budaya, aspek hubungan sosial dan lain sebagainya. Studi secara khusus inilah yang menghasilkan ilmu sosial seperti ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, psikologi, sosiologi, antropologi dan sebagainya.

            Selanjutnya menurut Hamid Hasan (2003 : 92) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) diartikan sebagai pendidikan pengetahuan sosial (PS) maupun dalam pengertian ilmu-ilmu sosial (IS). Ilmu Pengetahuan Sosial dalam pengertian pendidikan pengetahuan sosial merujuk kepada organisasi materi kurikulum yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak didik melalui pendidikan sosial dan budaya. Kurikulum yang demikian bertujuan untuk mendidik siswa mengembangkan kemampuan berfikir, sikap, dan nilai untuk dirinya sebagai individu maupun sebagai mahkluk sosial dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dalam pengertian pendidikan disiplin ilmu sosial biasanya dikembangkan dalam kurikulum akademik atau kurikulum disiplin atau sebagai label programnya dan tujuannya sangat erat berhubungan dengan tujuan disiplin ilmu.
            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas pada intinya Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial berusaha untuk membentuk siswa dalam kehidupan sehari-hari dan bukan hanya bersifat teoritis tetapi lebih menekankan pada hal-hal yang praktis serta memusatkan kepada masalah yang dihadapi manusia, maka Ilmu Pengetahuan Sosial memanfaatkan berbagai ilmu sosial secara terpadu agar siswa menjadi manusia dan warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

Kamis, 24 Maret 2011

Alat Pencernaan Manusia

Alat Pencernaan Manusia
Pengertian Alat Pencernaan Manusia
            Pencernaan adalah proses melumatkan makanan yang semula kasar menjadi halus. Makanan yang telah dicerna, telah diubah menjadi sari makanan dalam bentuk yang lebih halus sehingga mudah diserap oleh pembuluh darah.
            Alat pencernaan manusia adalah susunan alat-alat yang bekerja pada manusia yang melakukan proses pelumatan makanan hingga menjadi sari makanan. Pencernaan pada manusia terbagi 2 jenis (dalam Haryanto, 2007:13) yaitu:
  • Pencernaan makanan secara mekanis, yaitu pencernaan yang terjadi di dalam mulut. Makanan dilumat oleh gigi, sehingga makanan yang telah hancur mudah ditelan.
  • Pencernaan makanan secara kimia, yaitu pencernaan yang dilakukan oleh enzim, yang berlangsung dari mulut, lambung dan usus, yang tujuannya agar dapat mengubah zat-zat makanan sehingga mudah diserap tubuh.

Proses pencernaan manusia tidak hanya sebatas menguyah makanan saja, melainkan juga dengan proses kimia yang terjadi ditubuh manusia. Dengan perkenalan dua jenis proses pencernaan manusia, siswa dapat mengetahui tentang tubuh mereka dalam hal mencerna makanan.
Susunan Alat Pencernaan pada Manusia
            Alat pencernaan pada manusia meliputi : rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus (dalam Haryanto, 2007:13). Adapun tugas alat pencernaan makanan pada tubuh kita antara lain.
  1. menghancurkan makanan menjadi bentuk yang halus
  2. menyerap zat-zat makanan yang larut sehingga masuk ke dalam darah
  3. mengeluarkan dari tubuh zat-zat yang tidak dapat dicerna.

Sistem pencernaaa makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ, berturut-turut dimulai dari :
  1. Rongga Mulut
  2. Kerongkongan
  3. Lambung
  4. Usus halus
  5. Usus besar
  6. Anus
Rongga Mulut
            Proses pencernaan pertama kali terjadi di dalam rongga mulut. Di dalam rongga mulut, makanan dikunyah dan dihancurkan oleh gigi, dibantu oleh lidah. Dalam rongga mulut juga ada enzim yang membantu pencernaan yaitu enzim amilase. Gigi manusia terdiri atas gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham. Bagian-bagian gigi dapat dilihat Gambar 2.2.
1)      Gigi seri berbentuk pahat berfungsi untuk mencengkeram dan memotong makanan.
2)      Gigi taring berbentuk lancip dan runcing, berfungsi untuk menusuk dan mengoyak makanan.
3)      Gigi geraham berbentuk rata bergerigi, berfungsi untuk mengunyah makanan.
      

Di rongga mulut, makanan dikunyah supaya lembut dan halus. Makanan yang halus jika dikunyah antara 20 sampai dengan 30 kali kunyahan, terganyung jenis makanannya.
            Lidah juga membantu pencernaan makanan di dalam mulut. Dengan adanya lidah, kita dapat mengecap rasa manis, asin, asam, dan pahit. Lidah berfungsi dalam membantu proses menelan dan pencampuran makanan dalam mulut. Mengapa ketika kamu mengunyah nasi, lamakelamaan akan terasa manis? Di dalam mulut terdapat enzim untuk membantu pencernaan. Enzim tersebut dihasilkan oleh kelenjar ludah. Enzimnya disebut amilase. Enzim amilase berfungsi untuk mengubah zat tepung (amilum) menjadi zat gula.
Kerongkongan
Kerongkongan adalah bagian saluran pencernaan yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung. Kerongkongan menyerupai tabung yang panjang sekitar 20 cm, dari mulai dari faring (anak tekak) sampai lambung. Setelah dicerna di dalam mulut, makanan akan masuk ke dalam kerongkongan. Perhatikan Gambar 2.3. Makanan didorong oleh otot kerongkongan menuju lambung. Gerakan otot ini disebut gerak peristaltik. Gerak peristaltik inilah yang menyebabkan makanan terdorong hingga masuk ke lambung.
           
Lambung
            Perhatikan Gambar 2.4. Dari kerongkongan, makanan masuk ke lambung atau disebut juga perut besar. Di dalam lambung, makanan yang sudah dikunyah oleh gigi di dalam mulut, dilumatkan lagi dengan pertolongan bermacam-macam getah lambung. Getah lambung berguna untuk memecah makanan agar mudah diserap oleh pembuluh darah dan membunuh kuman yang terbawa oleh makanan. Getah lambung mengandung asam dan enzim sebagai berikut.
1.      enzim pepsin, berfungsi mengubah protein menjadi pepton.
2.      enzim renin, berfungsi mengendapkan protein susu menjadi kasein.
3.      asam klorida berfungsi untuk membunuh kuman penyakit dan mengasamkan makanan.


Usus Halus    
Usus halus merupakan usus yang terpanjang dari saluran pencernaan makanan. Panjangnya mencapai 6 hingga 7 meter. Di dalam usus halus terdapat berbagai cairan khusus yang membantu penyempurnaan pencernaan makanan. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian, yaitu usus dua belas jari, usus kosong, dan usus penyerap. Di dalam usus halus terdapat dua proses pencernaan, yaitu pencernaan secara kimiawi dan proses penyerapan sari makanan.
Usus dua belas jari panjangnya kira-kira 25 cm. Di dalam usus dua belas jari, terjadi pencernaan makanan dengan bantuan getah pankreas dan getah empedu. Getah pankreas dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Getah pankreas mengandung enzim-enzim, seperti enzim amilase, enzim tripsin, dan enzim lipase. Getah empedu dihasilkan oleh hati.

 Usus kosong terdapat di antara usus dua belas jari dan usus penyerapan. Panjangnya kira-kira 2,5 meter. Di dalam usus kosong terjadi pula proses pencernaan secara kimiawi. Usus kosong memiliki dinding yang dapat menghasilkan getah pencernaan. Usus penyerapan adalah tempat penyerapan sari-sari makanan. Sari makanan adalah makanan yang telah dicerna secara sempurna. Di dalam usus penyerapan terdapat bagian yang disebut vili. Vili banyak mengandung pembuluh darah. Vili inilah yang dapat menyerap sari-sari makanan.
Usus Besar
            Setelah melewati usus halus, sisa makanan masuk ke usus besar. Usus besar terbagi atas usus besar naik, usus besar melintang, dan usus besar turun. Perhatikan Gambar 2.6.
          

Di dalam usus besar, sisa makanan mengalami pembusukan. Pembusukan ini dibantu oleh bakteri Escherichia coli. Air dan garam mineral dari sisa makanan tersebut, akan diserap oleh usus kembali. Setelah itu, sisa makanan dikeluarkan melalui anus dalam bentuk tinja (feses).
Penyakit yang Menyerang Alat Pencernaan Manusia
            Pernahkah kamu mengalami sakit? Pada umumnya, jika seseorang merasakan perutnya sakit, maka kemungkinan besar dia mengalami gangguan pada alat pencernaanya. Gangguan itu dapat menyerang lambung, usus halus, usus besar, ataupun anus.
2.4.3.1. Gangguan pada Alat Pencernaan
            Sebagian besar berhubungan erat dengan makanan dan cara makan yang tidak sehat.         Diantarannya sebagai berikut.
1.      Makanan dapat memicu gangguan alat pencernaan jika dinikmati secara berlebihan.Misalnya, makanan yang terlalu pedas dan terlalu asam dapat mengganggu kesehatan lambung dan usus. Makanan yang sulit di urai dapat menumpuk di bagian alat pencernaan tertentu, misalnya biji cabe dan biji jambu batu (jambu klutuk).
2.      Pola makan yang tidak teratur dapat membuat alat pencernaan tidak bekerja baik. Misalnya sering terlambat makan.
3.      Cara menghancurkan (mengunyah) makanan yang tidak sempurna di dalam mulut dapat memperberat kerja lambung.
4.      Pengolahan makanan dan penggunaan alat makan yang tidak bersih dapat mengundang kuman penyakit masuk ke dalam tubuh.
2.4.3.2. Penyakit alat Pencernaan Manusia
            Ada beberapa penyakit yang menyerang alat pencernaan, yaitu sebagai berikut.
  1. Diare
            Diare disebut juga mencret. Penyakit ini digolongkan penyakit ringan, tetapi dapat menjadi berbahaya jika tidak mendapat perawatan yang benar.
            Diare terjadi jika penderita mengalami buang air besar yang encer dan terjadi lebih dari empat kali sehari. Penyakit ini mudah menyerang anak-anak, terutama yang kekurangan gizi. Banyak hal yang mengakibatkan diare, antara lain mutu dan kebersihan makanan yang buruk, alergi terhadap makanan, dan terlalu banyak makan makanan yang asam dan pedas. Penyakit lain juga dapat mengakibatkan mencret misalnya malaria, campak, cacingan, dan infeksi usus.
  1. Mag
            Mag adalah penyakit yang mengganggu lambung usus 12 jari. Gejala yang timbul antara lain sebagai berikut.
a. Perut terasa perih dan mulas jika terlambat makan.
b. Saat makanpun perut terasa sakit, kadang terasa mual bahkan muntah.
Penyakit ini timbul karena adanya produksi asam klorida yang berlebihan di lambung. Sakit mag sering disebabkan oleh rasa lelah akibat kerja dan rasa tegang yang berlebihan. Penderita harus segera berobat kedokter agar tidak menjadi parah.
  1. Radang usus buntu
            Radang usus buntu merupakan penyakit serius yang sering menyerang. Penyakit ini disebabkan oleh penumpukan kotoran di usus buntu, yaitu dibagian umbai cacing. Akibatnya, umbai cacing menyempit disertai infeksi oleh kuman. Hal ini menyebabkan umbai cacing meradang. Gejala yang timbul antara lain.
a.       Perut bagian kanan bawah terasa sangat nyeri.
b.      Perut terasa mual disertai muntah, kadang mencret.
c.       Tubuh mengalami demam.
            Penderita harus segera mendapat perawatan dokter. Pada keadaan yang lebih parah, penderita harus mengalami operasi pemotongan umbai cacing. Fungsi umbai cacing belum diketahui secara pasti. Orang yang dihilangkan umbai cacingnya tidak mengalami gangguan pada alat pencernaan yang lain.
  1. Tifus
            Tifus adalah suatu penyakit peradangan pada usus. Penyakit ini dapat menular cepat. Tifus juga dapat timbul akibat kebersihan makanan dan minuman tidak terjaga dengan benar. Gejala yang dialami penderita tifus antara lain :           
a. Tubuh menggigil, lemah, dan disertai mual
b. Akibat demam tinngi, penderita dapat mengigau
c. Punggung terasa sakit, kadang disertai mencret atau sembelit (sulit buang air besar).
Penderita perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Makanan yang diberikan biasanya dalam bentuk bubur.
Memelihara Kesehatan Alat Pencernaan
            Saluran pencernaan mesti dirawat sebaik-baiknya, karena jika terjadi kerusakan akan sangat berat dan sulit untuk memperbaikinya. Di bawah ini ada beberapa tindakan menjaga dan merawat saluran pencernaan dan cara mencegah penyakit saluran pencernaan.
  1. Mencuci tangan secara cermat dengan sabun dan air sebelum menyentuh makanan.
  2. Makanan sebaiknya yang higienis.
  3. Makan secara teratur dan memenuhi kebutuhan gizi yang cukup dan seimbang.
  4. Makan dalam suasana yang santai tidak tergesa-gesa. Tidaklah dianjurkan makan dalam keadaan tegang atau gugup.
  5. Jangan asal menelan, ambil cukup waktu mengunyah sehingga tercampur dengan saliva baru kemudian menelan. Istirahat beberapa menit setelah makan untuk memberi kesempatan pencernaan melaksanakan tugasnya.
  6. Makanan cukup sederhana namun mengandung segala keperluan tubuh, termasuk sayuran dan buah segar.
  7. Hindari kegiatan mental atau berpikir yang berat setelah makan. Soalnya darah sebagian besar dialirkan ke perut untuk mencerna makanan sehingga waktu berpikir menjadi tidak efisien.
  8. Agar lancar buang air besar dianjurkan mengkonsumsi makanan berserat setiap harinya dan hindari makanan yang menyebabkan sembelit seperti keju, roti putih, dan makanan yang rendah residunya. Makan makanan yang cukup mengandung sayuran karena sayuran banyak mengandung serat kasar. Dalam bahasa Inggris makanan seperti itu disebut roughages, terdiri dari sayur-sayuran yang berserat-serat, kulit buah-buahan, jagung, dan lainnya.
  9. Jangan menahan-nahan bila mau BAB. Biasakan diri buang air besar pada waktu-waktu yang tertentu. Pengaruh sembelit pada tubuh. Orang yang sering-sering menderita sembelit sering tidak merasa sehat badannya, pusing-pusing. Hal ini desebabkan karena ada zat-zat yang sebenarnya harus sudah dikeluarkan tetapi diserap kembali oleh usus.